h1

Zina Dunia Maya

November 25, 2009

Jemari itu dengan lincah bermain kata di keyboard PC-nya. Ter-sent, lalu terjawab.

Kemudian kembali mengesent.

Tokohnya adalah seorang akhwat…

Yang sedang melayani entahkah ikhwan atau bukan. Ngakunya si ikhwan!

Hitungan minggupun berlalu. Begitu banyak cerita yang terbaca,

mulai dari masalah dakwah hingga pelosok- pelosok yang terpribadi sekalipun.

Kasarnya, curhat!

Ikhwan dinegeri seberangpun kian terpana akan kata-kata indah motivasi,

tulisan yang menghibur hati. Hatipun kian luluh.

Kini mulai ada satu nama dihati yang kian memburu jiwa.

Kala si dia online. Hatipun tumbuh bunga.

Si akhwatpun seperti menjadi agenda penting untuk memberi tausiah pada si dia.

Lupa kalau sebenarny masih ada teman ikhwn lainny yg lebih pantas menangani pasien dakwah satu ini.

Semua jadi lebur.

Ikhwan disana mulai berani mengesent fotonya.

Dan ia tak lupa akan promosi si akhwat yang menginginkan surat Ar Rohman

sebagai syarat pinangan suatu saat nanti.

Ikhwanpun melayangkan lamaran.

Akh… Si akhwat hanya bisa ter’gigi’. Setengah tak percaya..

Dan akhwatpun tak mampu menolak. Ia terima pinangan itu dengan bingksan fotonya pada si ikhwan.

Ia terima pinangan itu dengan bingkisan fotonya pada si ikhwan bagai syarat penting dalam proses ta’aruf Namun, bisakah ini digolongkan dalam proses ta’aruf? Bila batas-batas it bukanlah kehadiran si wali

si penghindar hadirny pihak ketiga: setan melainkan hanya sebuah jarak.

Jarak yg hampir seluruhnya di kuasai pihak kegita yg paling kita takutkan.

Romantis belum pada waktunya, tanpa ikatan dan tanpa ijab. Lalu, apa bedanya dengan pacaran?

Pacaran mengatasnamakan kithbah yang hanya terpisah oleh jarak. Sikap saling perhatianpun menjadi agenda utama saat online, bukan lagi masalah dakwah!

Yang kini terjadi bahkan lebih parah. Saudara seiman si akhwat yg mencoba menegur mentah-mentahpun (tak ingin saudarany terjerumus zina), harus gigit jari penuh penyesalan. namun apalah hendak dikata. Virus pink itu telah menutup hati. Yang ada hanya emosi tak mau terima di ingatkan. Hingga si akhwatpun harus berdiam diri dengan saudara yang menegurnya. Tanpa memperhatikan, betapa sayangnya saudaranya itu pada dirinya.

Cerita diatas mungkin amat dekat dengan kita. Hanya versi yang bervariasi saja.
Semoga kita termasuk dalam hamba Allah yg mampu menjaga kemurnian hati ini.
Terjadi atau tidak.

Ini hanya pelajaran bagi kita.

Lewat pintu mana saja zina bisa terselip. Si dia bisa terpikat.

Kini cerita itu berbuah seribu masalah.

Itu hanya pancaran kecil dari komunikasi berlebih antar keduanya.

Pergaulan itu terkadang kian membekas dihati. Terpendam. Terbaca. Menyebar.

Lalu menjelma menjadi racun.

Ingat pesan Rasulullah di sebuah hadis, yg kurang lebih ada menyiratkan pergaulan ikhwan akhwat.

Ya ALLAH datangkanlah ia, kala hati ini siap untuk menerimanya



[Nayla Nawal Najibah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: